TIPALU - TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR LIMBAH TAHU DENGAN FERMENTASI ANAEROB DAN BIOGAS SEBAGAI PENGELOLAAN ENERGI LISTRIK BERKELANJUTAN
A. PENDAHULUAN
Kebutuhan
energi untuk masa sekarang dan masa yang akan datang semakin banyak dibutuhkan
dikarenakan oleh populasi manusia yang setiap harinya semakin meningkat dan
tentunya pemakaian energipun juga meningkat. Industri tahu merupakan salah satu
industri yang berkembang pesat di Indonesia
Industri
tahu dalam proses pengolahannya menghasilkan limbah, baik limbah padat maupun
cair. Limbah padat dihasilkan dari proses penyaringan dan penggumpalan limbah.
Sedangkan limbah cairnya dihasilkan dari proses pencucian, perebusan,
pengepresan dan pencetakan tahu (Rossiana, 2006). Limbah cair tahu dan limbah
padat tahu dengan karakteristik mengandung bahan organik tinggi dan kadar BOD,
COD yang cukup tinggi pula, jika langsung dibuang ke badan air, jelas sekali
akan menurunkan daya dukung lingkungan (Herlambang, 2002).
Pengolahan
air limbah diperlukan untuk menurunkan parameter pencemar dalam air limbah
tersebut agar memenuhi baku mutu air limbah sehingga tidak mencemari
lingkungan. Salah satu pengolahan yang dapat dilakukan untuk mengolah air
limbah tersebut adalah pengolahan anaerob pengolahan anaerob memanfaatkan
organisme dalam air limbah untuk menguraikan zat organik dimana dalam
pengolahan ini juga menghasilkan produk samping yaitu biogas yang dapat dimanfaatkan
sebagi sumber energi.
Salah
satu energi terbaharukan yang sedang dikembangkan adalah biogas. Keberadaan
biogas memiliki peluang yang besar dalam pengembangannya. Energi biogas dapat
diperoleh dari limbah rumah tangga maupun industri makanan seperti pada limbah
yang dihasilkan dari pembuatan tahu. Selain potensi yang besar, pemanfaatan
energi biogas dengan digester biogas memiliki keuntungan, yaitu mengurangi efek
rumah kaca, mengurangi bau tidak sedap, mencegah penyebaran penyakit,
menghasilkan panas dan daya (mekanisme atau energi listrik), serta hasil
samping berupa pupuk cair dan padat. Pemanfaatan limbah dengan cara ini secara
ekonomi akan sangat kompetitif seiring naiknya harga bahan bakar minyak dan
pupuk organik.
Ampas
tahu merupakan limbah yang mengandung bahan – bahan organik dengan nutrisi yang
cukup baik untuk pertumbuhan bakteri metanogenik. Adanya bakteri metanogenik di
dalam reaktor dapat menyebabkan terjadinya proses metanogenesis yang
menghasilkan gas metana. Pemanfaatan limbah ampas tahu saat ini banyak
digunakan sebagai makanan ternak, sehingga perlu digunkan inovasi dan manfaat
lain dalam pemanfaatan limbah ampas tahu tersebut. Jumlah industri tahu di
Indonesia mencapai 84.000 unit usaha (Kementrian Ristek, IPAL 2010).
Selain
itu, di Indonesia banyak terdapat industri pembuatan tahu yang menghasilkan
baik limbah cair maupun limbah padat setiap harinya maka membutuhkan instalasi
pengolahan limbah dengan perangkat sederhana, biaya operasional murah, dan
memiliki nilai ekonomis serta ramah lingkungan. Pengolahan limbah tahu harus
dikelola dengan baik dan dipelihara secara rutin. Berbagai teknologi pengolahan
limbah tahu sudah banyak diterapkan oleh berbagai kalangan masyarakat namun kebanyakan
kurang efektif dalam penanganannya maka diperlukan cara yang efisien dalam
pengolahan limbah tahu baik padat maupun cair yang bersifat ramah lingkungan
dengan menggunakan teknologi pengolahan limbah tahu padat dan cair secara
biologis anaerob.
2. Perumusan
Masalah
Dari uraian latar belakang diatas dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana metode pembuatan TIPALU (Teknologi
Pengolahan Air Limbah Tahu)?
2.
Mengapa TIPALU (Teknologi Pengolahan Air
Limbah Tahu) dapat digunakan
untuk pengelolaan lingkungan berkelanjutan?
3.
Apa saja keunggulan yang dimiliki TIPALU
(Teknologi Pengolahan Air Limbah Tahu) ?
4.
Bagaimana cara pemanfaatan limbah tahu
dengan TIPALU (Teknologi Pengolahan Air Limbah Tahu)?
3. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan TIPALU ini adalah :
1. Untuk
mengetahui metode pembuatan TIPALU (Teknologi Pengolahan Air Limbah Tahu)
2. Untuk
mengetahui bahwa TIPALU dapat digunakankan sebagai pengelolaan limbah secara
berkelanjutan
3. Untuk
mengetahui keunggulan yang dimiliki TIPALU
4. Untuk
mengetahui cara pemanfaatan limbah tahu dengan TIPALU
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Limbah
Tahu
Tahu
merupakan salah satu jenis makanan sumber protein dengan bahan dasar kacang
kedelai. Kadar protein biji kedelai berada di atas 30%, sedangkan kandungan
protein kasar hijauannya berkisar antara (15-20)% (Pamilia Coniwanti, 2009). Industri tahu merupakan industri
pangan yang populer di masyarakat, bahan bakunya banyak dijumpai, pengolahannya
mudah, bergizi, dan harganya terjangkau. Dampak positif industri tahu yang lain
adalah terserapnya tenaga kerja, terpenuhinya gizi masyarakat, dan peningkatan
pendapatan masyarakat (Septiani Ashari, 2016). Namun demikian, muncul pula
dampak negatif yaitu polusi lingkungan karena limbah tahu yang kaya bahan
organik dan potensial terjadi degradasi secara alami.
Limbah
tahu adalah limbah yang dihasilkan dalam proses pembuatan tahu maupun pada saat
pencucian kedelai. Limbah yang dihasilkan dari industri tahu menurut Nurhasan
(1991) berupa:
a. Limbah Padat
Buangan
padat pabrik tahu berasal dari proses pencucian penyaringan berupa biji yang
jelek, ceceran biji, dan batu kerikil yang terikut dalam biji. Dari proses
penyaringan dihasilkan limbah padat berupa ampas tahu, sedangkan dari proses
pengepresan dihasilkan potongan-potongan tahu yang tercecer. Limbah padat belum
terlalu mencemari lingkungan karena bisa digunakan untuk membuat tempe dan
pakan ternak sapi, kerbau, kambing, babi, dan ikan. Komposisi / kandungan Kimia Ampas Tahu diantaranya :
kalori 414 kal, Protein 26,6 g, Lemak 18,3 g,
Karbohidrat 41,3 g, Kalsium
19 mg, fosfor 29 mg, besi 4 mg, vit B 0,20 mg Air 9 g (KLH, 2006).
19 mg, fosfor 29 mg, besi 4 mg, vit B 0,20 mg Air 9 g (KLH, 2006).
b.
Limbah
Cair
Sebagian besar buangan pabrik tahu adalah limbah cair yang
mengandung sisa air dari susu tahu yang tidak tergumpal menjadi tahu, sehingga
limbah cair pabrik tahu masih mengandung zat-zat organik seperti protein,
karbohidrat dan lemak dan minyak. Kandungan Protein mencapai
40-60%, karbohidrat 25-50% dan lemak 10% (Herlambang, 2002). Selain zat terlarut, limbah cair
juga mengandung padatan tersuspensi atau padatan terendapkan misalnya potongan
tahu yang kurang sempurna saat pemrosesan.
Suhu
air limbah tahu berkisar 37-45°C, kekeruhan 535-585 FTU, warna 2.225-2.250
Pt.Co, amonia 23,3-23,5 mg/1, BOD5 6.000-8.000 mg/1 dan COD 7.500-14.000 mg/1
(Herlambang, 2002).
B.
Biogas
Biogas (gas bio) adalah gas yang
dihasilkan dari pembusukan bahan-bahan organik oleh bakteri pada kondisi
anaerob (tanpa ada oksigen bebas). Biogas tersebut merupakan campuran dari
berbagai macam gas antara lain : CH4 (54%-70%), CO2 (27%-45%), O2 (1%-4%), N2
(0,5%-3%), CO (1%), dan H2 (KLH, 2006). Penggunaan biogas ini merupakan salah
satu cara untuk mengurangi pencemaran lingkungan, karena dengan fermentasi
bakteri anaerob (bakteri metan) maka tingkat pengurangan pencemaran lingkungan
dengan parameter BOD, COD akan berkurang sampai 90%. Secara umum proses
anaerobik akan menghasilkan gas Methana (Biogas). Menurut Lettinga (1994)
faktor-faktor lingkungan yang sangat berpengaruh pada pengolahan limbah secara
anaerobik adalah suhu, pH, adanya nutrien essensial (makronutrien, nitrogen,
phosphor, dan mikronutrien), serta tidak adanya senyawa racun.
Proses pembuatan biogas dilakukan
secara fermentasi, yaitu proses terbentuknya gas metana dalam kondisi anaerob
dengan bantuan bakteri anaerob di dalam suatu digester sehingga akan dihasilkan
gas metana (CH4) dan gas karbon dioksida (CO2) yang volumenya lebih besar dari
gas hidrogen (H2), gas nitrogen (N2) dan asam sulfida (H2S).
Proses fermentasi memerlukan waktu
7 sampai 10 hari untuk menghasilkan biogas dengan suhu optimum 35ºC dan Ph
optimum pada range 6,4 – 7,9. Bakteri pembentuk biogas yang digunakan yaitu
bakteri anaerob, seperti Methanobacterium,
Methanobacillus, Methanococcus dan Methanosarcina
(Price dan Cheremisinoff, 1981). Reaksi pembentukan metana dari bahan – bahan
organik yang dapat terdegradasi dengan bantuan enzim maupun bakteri dapat
dilihat sebagai berikut :
C.
Pengolahan
Air Limbah
Secara umum, metode pengolahan yang dikembangakan dapat
digolongkan atas 3 jenis metode pengolahan (Oliver Mangara, 2013), yaitu:
1.
Pengolahan Limbah Secara Fisika
Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap
air buangan, diinginkan agar bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang
mudah mengendap atau bahan-bahan yang terapung disisihkan terlebih dahulu.
Penyaringan (screening) merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan
bahan tersuspensi yang berukuran besar. Bahan tersuspensi yang mudah mengendap
dapat disisihkan secara mudah dengan proses pengendapan. Parameter desain yang
utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan
waktu detensi hidrolis di dalam bak pengendap.
2. Pengolahan Limbah Secara Kimia
Pengolahan air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk
menghilangkan partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid),
logam-logam berat, senyawa fosfor, dan zat organik beracun; dengan membubuhkan
bahan kimia tertentu yang diperlukan. Penyisihan bahan-bahan tersebut pada
prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan tersebut, yaitu dari
tak dapat diendapkan menjadi mudah diendapkan (flokulasi-koagulasi), baik
dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi, dan juga berlangsung sebagai hasil
reaksi oksidasi.
3.
Pengolahan Limbah Secara Biologi
Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi.
Sebagai pengolahan sekunder, pengolahan secara nbiologi dipandang sebagai
pengolahan yang paling murah dan efisien. Dalam beberapa dasawarsa telah
berkembang berbagai metode pengolahan biologi dengan segala modifikasinya.
Pada dasarnya, reaktor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas
dua jenis, yaitu:
a. Reaktor pertumbuhan
tersuspensi (suspended growth reaktor).
b. Reaktor pertumbuhan
lekat (attached growth reaktor).
Di dalam reaktor pertumbuhan tersuspensi, mikroorganisme
tumbuh dan berkembang dalam keadaan tersuspensi. Proses lumpur aktif yang
banyak dikenal berlangsung dalam reaktor jenis ini. Proses lumpur aktif terus
berkembang dengan berbagai modifikasinya, antara lain: oxidation ditch dan
kontak-stabilisasi. Dibandingkan dengan proses lumpur aktif konvensional,
oxidation ditch mempunyai beberapa kelebihan, yaitu efisiensi penurunan BOD
dapat mencapai 85%-90% (dibandingkan 80%-85%) dan lumpur yang dihasilkan lebih
sedikit. Selain efisiensi yang lebih tinggi (90%-95%), kontak stabilisasi
mempunyai kelebihan yang lain, yaitu waktu detensi hidrolis total lebih pendek
(4-6 jam). Proses kontak-stabilisasi dapat pula menyisihkan BOD tersuspensi
melalui proses absorbsi di dalam tangki kontak sehingga tidak diperlukan
penyisihan BOD tersuspensi dengan pengolahan pendahuluan.
D.
Teknologi
Pengolahan Limbah Tahu Dengan Penguraian Anaerob
1. Pengolahan
1. Pengolahan
|
Gambar 1. Diagram proses
pengolahan air limbah industri tahu-tempe dengan
sistem kombinasi biofilter "Anareb-Aerob". |
Keunggulan
proses anaerobik dibandingkan proses aerobik adalah sebagai berikut (Lettingan
et al, 1980; Sahm, 1984; Sterritt dan Lester, 1988; Switzenbaum, 1983) :
- Proses anaerobik dapat segera
menggunakan CO2 yang ada sebagai penerima elektron. Proses
tersebut tidak membutuhkan oksigen dan pemakaian oksigen dalam proses
penguraian limbah akan menambah biaya pengoperasian.
- Penguraian
anaerobik menghasilkan lebih sedikit lumpur (3-20 kali lebih sedikit dari
pada proses aerobik), energi yang dihasilkan bakteri anaerobik relatif
rendah. Sebagian besar energi didapat dari pemecahan substrat yang
ditemukan dalam hasil akhir, yaitu CH4. Dibawah kondisi aerobik
50% dari karbon organik dirubah menjadi biomassa, sedangkan dalam proses
anaerobik hanya 5% dari karbon organik yang dirubah menjadi biomassa.
Dengan proses anaerobik satu metrik ton COD tinggal 20 - 150 kg biomassa,
sedangkan proses aerobik masih tersisa 400 - 600 kg biomassa (Speece,
1983; Switzenbaum, 1983).
- Proses
anaerobik menghasilkan gas yang bermanfaat, metan. Gas metan mengandung
sekitar 90% energi dengan nilai kalori 9.000 kkal/m3, dan dapat
dibakar ditempat proses penguraian atau untuk menghasilkan listrik.
Sedikit energi terbuang menjadi panas (3-5%). Pruduksi metan menurunkan
BOD dalam Penguraian lumpur limbah.
- Energi
untuk penguraian limbah kecil.
- Penguraian
anaerobik cocok untuk limbah industri dengan konsentrasi polutan organik
yang tinggi.
- Memungkinkan
untuk diterapkan pada proses Penguraian limbah dalam jumlah besar.
- Sistem
anaerobik dapat membiodegradasi senyawa xenobiotik (seperti chlorinated
aliphatic hydrocarbons seperti trichlorethylene, trihalo-methanes) dan
senyawa alami recalcitrant seperti liGnin.
Beberapa kelemahan Penguraian
anaerobik:
·
Lebih Lambat dari proses aerobik
·
Sensitif oleh senyawa toksik
·
Start up membutuhkan waktu lama
·
Konsentrasi substrat primer tinggi
2.
Proses
Penguraian Senyawa Organik Secara Anaerob
Secara
garis besar penguraian senyawa organik secara anaerob dapat di bagi menjadi dua
yakni penguraian satu tahap dan penguraian dua tahap.
Penguraian
satu tahap
Penguraian
anaerobik membutuhkan tangki fermentasi yang besar, memiliki pencampur mekanik
yang besar, pemanasan, pengumpul gas, penambahan lumpur, dan keluaran
supernatan (Metcalf dan Eddy, 1991). Penguraian lumpur dan pengendapan terjadi
secara simultan dalam tangki. Stratifikasi lumpur dan membentuk lapisan berikut
dari bawah ke atas : lumpur hasil penguraian, lumpur pengurai aktif, lapisan
supernatan (jernih), lapisan buih (skum), dan ruang gas. Hal ini secara umum
ditunjukkan seperti pada gambar 2.
Penguraian
dua tahap
Proses
ini membutuhkan dua tangki pengurai (reaktor) yakni satu tangki berfungsi
mencampur secara terus-menerus dan pemanasan untuk stabilisasi lumpur,
sedangkan tangki yang satu lagi untuk pemekatan dan penyimpanan sebelum dibuang
ke pembuangan. Proses ini dapat menguraikan senyawa organik dalam jumlah yang
lebih besar dan lebih cepat. Secara sederhana proses penguraian anaerob dua
tahap dapat ditunjukkan seperti pada gambar 3.
Gambar 2. Penguraian Anaerob Satu Tahap.
Gambar 3. Penguraian Anaerob Dua Tahap.
BAB
III
METODE PENULISAN
A. Jenis
Penulisan
Penulisan karya tulis
berjudul “TIPALU - Teknologi Pengolahan Air Limbah Tahu Dengan Fertilisasi
Anerob Dan Biogas Sebagai Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan”dilakukan secara
deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengkajian masalah untuk menciptakan solusi
pada penulisan ini dilakukan dengan membaca literatur yang sesuai, sedangkan
metodenya menggunakan studi pustaka kemudian diselaraskan dengan konsep ide dan
permasalahan yang ada.
B. Fokus
Penulisan
Penulisan
karya tulis ini berfokus pada metode Tipalu dengan
menggunakan teknik penelitian yang berdasar pada objek limbah tahu yang dapat
dijadikan sebagai air bersih dan biogas.
Sasaran penulisan ini adalah pemanfaatan
air limbah tahu sebagaiAIR bersih dan biogas yang terdapat di daerah Srandakan,
Bantul Provinsi DIY . Dengan tujuan untuk menciptakan air bersih dan biogas untuk permasalahan lingkungan yang
berdasar pada kesenjangan sosial di masyarakat serta memanfaatkan teknologi
dalam mengolah air limbah tahu yang dijadikan sebagai air bersih dan biogas untuk
pemanfaatan energi terbarukan bagi lingkungan berkenajutan.
C. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam karya
tulis ini yaitu melalui studi pustaka, baik itu buku-buku, jurnal, maupun
literature dari internet yang relevan dengan pembahasan masalah.
D. Teknik
Pengumpulan Data
Data-data yang
terkumpul dari hasil kajian literatur selanjutnya digunakan sebagai pijakan
dalam melakukan analisis. Analisis tersebut dilakukan secara kualitatif untuk
selanjutnya dapat ditarik kesimpulan berdasarkan pembahasan dari setiap
permasalahan yang dikemukakan.
E. Analisis
Data
Berikut
langkah-langkah analisis data penulisan karya tulis Alquran ini
1.
Mengidentifikasi masalah yang berkaitan
dengan air limbah tahu.
2.
Menganalisis kebermanfaatan Tipalu bagi lingkungan
3.
Melakukan pencarian informasi dan
referensi tentang pemanfaatan air limbah tahu yang sesuai dengan litertur yang
didapatkan
4.
Menarik kesimpulan berdasarkan
pembahasan.
F.
ALAT
DAN BAHAN
a. Alat
1. Digester
(tangki pencerna)
2. Selang
plastic
b. Bahan
1. Ampas
tahu (secukupnya)
2. Air
(91-93%)
3. NaOH
(6,5-8)
4. Bakteri
EM4 (5 ml/100gr)
5. Urea
(10 gr/ 100dr)
G. PROSEDUR PENELITIAN
Prosedur pembuatan biogas dilakukan dengan langkah-
langkah berikut :
a. Persiapan
Alat
Menyiapkan Digester, digester yang digunakan pada
penelitian ini merupakan hasil modifikasi rancangan Mayasari, dkk (2010) dengan
tipe floating drum. Pertimbangan pemilihan tipe floating drum ini adalah untuk
memudahkan perhitungan volume biogas yang terbentuk setiap hari selama proses
fermentasi. Selang plastic sebagai penghubung dan drum penampung gas. Merangkai
alat-alat tersebut sehingga siap digunakan. Membersihkan rangkaian alat
tersebut.
b. Persiapan
Bahan
Menyiapkan Bahan isian digester berupa ampas tahu
sesuai dengan massanya . Penambahan air ke dalam bahan isian (ampas tahu), yang
bertujuan untuk dapat memenuhi kadar air yang disyaratkan untuk pembentukan
biogas, yaitu 91-93% (Ratnaningsih, 2009). Tambahkan NaOH sampai kadar
keasaman(pH) mencapai rasio antara 6,5-8, NaOH ditambahkan berguna untuk
penetralan PH. Tambahkan bakteri EM-4 (yang telah diencerkan) sebanyak 5 ml per
100 gr, Effective Microorganism4
(EM4) merupakan suatu cairan berwarna
kecoklatan dan beraroma manis asam (segar) yang didalamnya berisi campuran
mikroorganisme (bakteri) pengurai yang dapat membantu dalam pembusukan sampah
organic yang terdiri dari bakteri fotosintetik,bakteri asam
laktat,ragi,aktinomydetes,dan jamur peragian (Maman Suparman, 1994:3).
Tambahkan urea sebanyak 10 gr/ 100 gr ampas tahu, yang dilarutkan dalam air
ampas tahu, urea berfungsi sebagai suplai nutrisi pertumbuhan pada
mikroorganisme anaerob. Semua bahan isian tersebut kemudian dicampur dimasukkan
ke dalam digester sebanyak 2/3 bagian dari volume digester, yaitu ±30 liter.
c. Pembuatan
Biogas
Pembentukan biogas dilakukan pada temperatur lokal
Kota Yogyakarta yang berkisar antara
22-29°C, sehingga tidak memerlukan suplai energi tambahan untuk pengkondisian
temperatur (Mayasari dkk, 2010). Rentang temperatur Kota Yogyakarta tersebut
termasuk rentang temperature mesophilic (20-40°C) dengan waktu tinggal tipikal
yang dibutuhkan untuk pembentukan biogas selama 30 hari.
d. Berikut
langkah pembuatan biogas
1. Campuran
bahan isian ampas tahu yang telah disiapkan, dimasukkan ke dalam reactor
(gester). Tutup kerangan gas yang terhubung dengan tempat penampungan gas.
2. Setelah 3 hari buka kerangan gas yang
terhubung dengan tempat penampungan gas.
3. Gas
yang terbentuk akan tertampung dengan sendirinya dan mengalir melalui pipa
saluran menuju tempat penampungan yang telah disiapkan.
4. Dari
tempat penampungan gas, gas mengalir ke dalam balon yang telah dipasang pada
salah satu sisi dari tempat penampungan gas tersebut.
5. Setelah
waktu yang ditentukan tercapai, tutup kerangan keluaran gas yang terhubung
dengan balon dan ikat balon yang telah mengembang.
6. Pasang
balon baru dan buka kembali kerangan keluaran gas.

Komentar
Posting Komentar